Kisah Aiptu Jacklyn Choppers: Pernah Kena 11 Peluru & Dikeroyok 40 Orang

by
Berita   88 views

Beberapa waktu lalu video penangkapan HS, pria yang mengancam akan memenggal kepala Jokowi, beredar luas. Dalam rekaman video itu tampak seorang polisi nyentrik berambut gondrong pirang dengan kupluk hitam yang mencuri perhatian.

Dia adalah anggota Jatanras Polda Metro Jaya bernama Aiptu Jakaria atau yang lebih beken dengan nama Jacklyn Choppers. Bang Jack, begitu ia kerap disapa, sering muncul dalam sejumlah pengungkapan kasus besar.

Di balik penampilannya yang nyentrik, ternyata ada banyak cerita menarik yang melatarbelakanginya. Pria berusia 46 tahun asal Tasikmalaya, Jawa Barat, itu juga berkali-kali nyaris berhadapan dengan maut saat bertugas di lapangan.

Namun meski garang, dia tetap kepala rumah tangga yang mencintai keluarga. Saat anak perempuannya yang masih duduk di bangku SD dipanggil guru, dia juga langsung buru-buru datang ke sekolah. Apalagi saat mengetahui istrinya diancam dan didatangi bandar narkoba, Bang Jack langsung bertindak melindungi keluarga.

Untuk mengenal lebih dekat pria berdarah Sunda yang berlogat Betawi kental ini, kumparan berbincang dengan Bang Jack di ruangannya, di Jatanras Polda Metro Jaya, Kamis (16/5). Simak cerita-cerita seru Bang Jack selengkapnya dalam wawancara berikut:

Boleh dikenalkan nama asli, pangkat, dan jabatan?

Nama gue sih nama nabi ye, Jakaria. Tapi ye sering dikenalnya Jacklyn Choppers karena gue memang hobi choppers. Gue di sini sebagai anggota Subdit IV Jatanras (Kejahatan dan Kekerasan) Polda Metro Jaya.

Kisah Aiptu Jacklyn Choppers Pernah Kena 11 Peluru & Dikeroyok 40 Orang

Tahun berapa masuk kepolisian?

Gue di kepolisian tahun 1995, lulus tahun 1996, Januari. Terus gue di Polres Jakarta Pusat. Enggak lama kemudian gue langsung ke Polda Metro. Jadi gue udah tugas di kepolisian, lebih banyak di lapangan, sekitar 23 tahun.

23 Tahun di divisi penindakan pasti banyak pengalaman menarik, boleh ceritakan?

Banyak. Gue pernah dikeroyok sama 40 orang lebih, tapi ya alhamdulillah gue selamet. Terus gue pernah ditembak 11 peluru, waktu pengejaran perampokan Rp 2,8 M di Rancaekek, Cipacing.

Ditembak 11 peluru dan masih hidup, bagaimana ceritanya?

Sebenarnya kejadian awal 2006, perampokan mesin pengisi ATM Rp 2,8 miliar di Cawang, Jakarta Timur. Pelakunye memang bawa senjata api, bawa granat segala macem, pelakunye 9 orang. Akhirnya udah kita kerjain, di sini ketangkep sekitar 5 orang, masih berlanjut ada gembongnye yang belum ketangkep. Akhirnya kita kejar terus sampai kite berangkat ke Lampung, sampai kita mendapat informasi bahwa gembong pelaku ini ada di Bandung.

Akhirnya kita berangkat ke Bandung, tahu si gembong pelaku ada di situ. Dia ada di dalam mobil nih, akhirnya kita melakukan penangkapan di sana. Ya karena memang pas kebetulan dia juga udah mempersiapkan senjata, jadi pas waktu itu gue masuk ke dalam mobil, langsung terjadi baku tembak di dalam mobil. Akhirnya kena 11 peluru, 2 di bagian jantung, 1 dekat uluhati, 2 di dekat lambung sebelah kiri, 2 lagi di sebelah kanan, ini 1, terus 3 di lengan kiri. Yang 3 di lengan kiri memang enggak bisa diambil karena hancur sama tulang.

Makanya dulu dokter menyarankan untuk amputasi. Tapi gue tetap bertahan, tetap semangat dan akhirnya bisa bergerak. Alhamdulillah sampai sekarang sehat.

Ini gue ditato bukan buat gaya-gayaan sebenarnya. Buat nutupin luka bekas tembak. Ini tangan gue udah mau dipotong nih, udah ah gue tato aja gitu, haha. Ya tapi alhamdulillah sehat.

Waktu ditembak 11 peluru sempat melawan enggak?

Gue nembak dia 2 kali. Kena bagian dada dua-duanya, langsung jatuh (tewas).

Posisi Abang di mobil bagian mana waktu itu?

Jacklyn bercerita sambil memeragakan reka adegan.

Gue di mobil yang tengah, dia di depan (setir). Gua nyekek (mencekik dari belakang), dia nembak 11 kali (dari arah kiri, sehingga luka tembak yang banyak mengenai Jacklyn di sebelah kiri). Gue nembak 2 kali. Habis itu baru dari sana (kelompok pelaku yang berada di luar mobil) nembak 180 lubang. Tapi yang masuk ke badan gue cuma 11 peluru. Dari bekas lubang di mobil kan kelihatan ada 180.

Teman satu tim bagaimana?

Ada anggota juga. Gua udah bilang, kalau gua enggak keluar dalam jangka hitungan ke-5, langsung serbu.

Tembakannya banyak mengenai organ vital. Itu sempat koma?

Alhamdulillah saat kejadian gue enggak koma, enggak titik, enggak tanda seru. Alhamdulillah gue tetap sadar, peluru masuk tetap berasa, gue istigfar. Tetapi ada kejadian yang aneh, ada yang ngebisikin asmaul husna. Jadi dari awal sampai akhir ke rumah sakit, sampai merinding gue nih, ada yang bisikin asmaul husna, yang gue sendiri kagak ngerti. Awalnya gue belum pernah baca sama sekali tu ayat. Akhirnya gue baca terus sampai Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, gue dalam keadaan sehat dan sadar.

Berapa lama dirawat?

Sekitar 1 bulan. Itu juga karena gue buru-buru pulang, enggak betah di rumah sakit. Kadang-kadang dikasih makan dari rumah sakit enggak gue makan. Gue beli nasi padang, gue suruh pecel lele, haha.

Pulang dari rumah sakit, gue enggak sempat istirahat tuh. Waktu itu perintah Pak Direktur, Pak Carlo (Carlo Brix Tewu, Dirkrimum Polda Metro Jaya kala itu), suruh istirahat. Tapi ya namanya gue di lapangan enggak betah. Gue baru istirahat seminggu, gue baca handphone, tiba-tiba ada kasus mutilasi di Jakarta Utara, di hotel, kejadiannya awal 2008. Gue ke kantor, gabung sama tim. Kita lidik akhirnya dapat pelakunya tukang nasi goreng yang ngaku ke ceweknya sebagai mahasiswa Trisakti. Di situ kita dapat barang buktinya, motor korban, KTP korban.

Waktu itu tangan sudah sembuh?

Oh masih balut. Tangan masih diperban semua, masih digendong. Kondisinya belum stabil.

Kalau yang cerita dikeroyok 40 orang bagaimana?

Itu kasus perjudian. Gue nolongin anggota Krimsus, si Sibarani. Kondisinya gelap, untung gue lihat waktu itu karena ada cahaya bulan. Gua tarik dia buat kabur, eh malah gue yang kena, dikeroyok 40 orang. Darah udah di mana-mana, langsung gue dibawa ke RSCM, dirontgen, enggak papa.

Abang punya ilmu kekebalan?

Kagak ada.

Atau ada amalan tertentu?

Loading...

Dulu kakek gua kan pemain debus, Jawara, gitu. Gua lagi zaman-zaman sekolah masih SMP-SMA, sering disuruh belajar, ‘puasa dong’ gitu doang. Bukannya untuk sengaja, enggak. Itu kalau bahasa dulu ngabungbang, puasanya tuh matigeni. Misalnya 7 hari, 1 malam terakhir itu enggak makan, enggak tidur. Baru setelah itu dites, hantem golok atau apa. Ya kalau enggak sempurna ya sempoak (luka, celaka) lo.

Abang dulu dites juga?

Dites, dia asah golok depan kita, sengaja bikin ciut. Langsung dihantem tuh. Kalau sempoak ya udah nasib lu.

Abang sempoak enggak?

Enggak.

Setelah itu apakah ada amalan yang terus dilanjutkan?

Enggak. Gue udah mulai capek. Makanya selagi kakek gue masih hidup, gue buang-buangin. Diuji terus, bos.

Kakek Bang Jack meninggal beberapa tahun lalu dalam usia 120 tahun.

Berarti kekuatannya udah enggak kayak dulu lagi?

Enggak, kuotanya udah berkurang. Hahaha.

Sering berhadapan dengan pelaku kriminal, apakah keluarga pernah jadi korban?

Bini gua mau diculik dua kali. Pernah disamperin bandar narkoba, diusir dari rumah kontrakan, waktu tinggal di Menteng Tenggulun. Gua samperin balik. Polisi enggak boleh kalah sama pelaku kejahatan, bos.

Bagaimana melindungi anak-istri agar tidak lagi jadi sasaran pelaku kejahatan?

Harus siap, harus galak.

Ada proteksi khusus?

Hidup mati udah ada yang atur kok.

Soal penampilan, kenapa nyentrik begini?

Ya memang dari dulu gue hobinya item-item. Selain itu ya buat proteksi diri gue sendiri sih sebenernye. Gue berpenampilan begini masyarakat akan tahu. Kalau andai kata gue macem-macem di luar, masyarakat akan tahu. Untuk nakal di luar, orang lain akan tahu, itu buat proteksi diri gue sendiri sebenernya.

Kisah Aiptu Jacklyn Choppers Pernah Kena 11 Peluru & Dikeroyok 40 Orang

Kalau serbannya kenapa?

Iya kalau serban sebenernya buat asesoris aja sih biar gampang, biar enak. Namanya kita sering (kerja) malem kan, biar enggak masuk angin juga. Kalau habis borgol, gue iket pakai ini, haha. Fungsinya macem-macem.

Dengan penampilan nyentrik apakah tidak menyulitkan saat penindakan?

Enggak, karena gue udah bukan bagian penyamaran lagi. Kecuali bagian penyamaran, di kepolisian kan ada juga tim surveillance yang enggak boleh ketahuan sama siapapun. Kalau gue udah bagian penindakan. Pokoknya udah ada informasi dari tim surveillance, udah A1 (valid), ya gue paling depan. Kita garis paling depan.

Sejak kapan aktif di sosial media dan mengunggah video-video saat penindakan?

Gue videoin itu iseng doang. Mulai video sih 2016 terus mulai aktifnya 2018 lah. Buat dokumentasi gue doang sebenarnye. Dokumentasi kerja tim, kerja unit, kerja direktorat, gue taruh di situ. Dan akhirnya berkembang-berkembang, oh yaudahlah gue masukin aja ke youtube, daripada dari hard disk susah, ilang, lupa. Kalau ini kan kita enggak usah berat-berat bawa tentengan.

Selain itu kita kan memberi edukasi kepada masyarakat, sesuai dengan programnya Pak Tito (Kapolri Jenderal Tito Karnavian) kan, polisi itu harus Promoter (profesional, modern, terpercaya). Makanya di situ kita menunjukkan ke masyarakat bahwa ini polisi tidak tidur lho. Polisi siap mengayomi masyarakat kapanpun, 24 jam.

Berapa orang yang bantu merekam dan edit video?

Enggak ada. Kadang-kadang gua sendiri yang ngerekam, kadang anggota. Ngedit juga andai kata gue santai aja, enggak pakai editor. Makanya kadang-kadang gambar acak-acakan, yang penting niatnya buat dokumentasi kite, dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Begini lho kalau ada tindakan-tindakan kejahatan, begini lho kalau kamu melakukan hoaks, begini lho akibatnya, makanya kamu jangan menyebarkan hoaks.

Akun juga dikelola sendiri?

Iya. Asal aja kalo mau aja.

Subscribersnya banyak, tentu bisa menambah penghasilan. Dikelola ke sana enggak?

Kalau itu kita sih enggak mungkirin yang namanya rezeki diterima. Tapi kan arahnya kita enggak ke situ, kita buat dokumentasi aje. Tapi kan andai kata dapat ya kita enggak mungkiri.

Ada penyaringan konten?

Nah ini bedanya nih, kalau di gua, di konten youtube gua, apa yang gua lakuin di lapangan, itulah yang terjadi. Enggak ada setting-settingan, yang terjadi ya itu.

Pernah ada komplain dari atasan?

Kan gini, gua juga enggak sembarang nge-share ya kan. Istilahnya kita lapor dulu ke komandan, nih ndan hasil videonya. Kita juga enggak main share juga, tunggu perintah. Kalau andai kata dari, mungkin, Pak Kabid Humas udah memberikan kepada rekan-rekan (media), ya baru kita share.

Berarti selalu dari pantauan atasan juga ya?

Ya iya sih. Dan kita juga ngertilah, pasti paham mana yang harus ditonjolkan mana yang harus dipotong. Dalam arti begini, kan ada sesuatu yang tidak perlu tahu bagaimana cara penyidikan kepolisian, bagaimana cara mengejarnya, itu adalah teknik kepolisian, enggak perlu diomongin.

Banyak dikenal di medsos ada pengaruhnya enggak dengan proses penindakan?

Kalau menurut gue sih biasa aje ye, beneran. Tapi ya kadang-kadang suka ada untungnya juga dikenal. Kadang-kadang kan kita gerebek rumah orang, kadang kan kita ditanya ribut-ribut, emang bener Bapak polisi? Enggak percaya, pas udah ngelihat kita, nah kalau Bapak ini saya percaya nih, saya sering lihat. Nah gitu, ada untungnya juga.

Di tempat rawan yang katenye kalau digerebek, polisi sering diserang, anggota udah diteriakin ‘maling-maling’. Pas kita keluar, ‘eh Bang Jack, bener nih polisi Polda’. Udah aman. ada untungnya.

Abang hampir selalu terlihat di kasus-kasus besar. Apa memang selalu dipercaya untuk itu?

Ya kalau pas kebetulan unit kita yang menanganinya, dan kadang-kadang juga gabungan. Ya alhamdulillah kita masih dipercaya sama pimpinan untuk gabung di tim itu.

Polisi kan sering mutasi, kalau dimutasi nanti bakal masih tetap aktif di medsos enggak?

Kita sih yang namanya polisi ditempatkan di mana aja siap.
Artikel Asli

Loading...